← Kembali ke berita

Mengatur Jadwal Makan Anak

18 September 2026

Saat anak mulai MPASI, orang tua sering merasa seperti harus jadi time keeper profesional. Semua ingin serba tepat: jam makan, porsi, camilan, hingga waktu minum. Tapi apakah benar semuanya harus strict? Apa tidak boleh fleksibel?

Jawabannya: boleh, bahkan disarankan untuk fleksibel, selama tetap memperhatikan prinsip gizi dan perkembangan anak.

Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) menyarankan frekuensi pemberian makan anak dalam sehari sebanyak 2-3 kali makan utama, ditambah 1-2 kali makan selingan (snack) dan ASI/susu 2-3 kali. Kunci keberhasilan makan pada anak adalah memberi makan saat anak merasa lapar. Maka penting membuat jadwal makan yang teratur, dan di antara waktu makan sebaiknya hanya konsumsi air putih. Jangan biasakan anak ngemil karena hal ini membuat anak tidak merasa lapar saat jam makan tiba.

Contoh Jadwal Makan:
06.00 — ASI
08.00 — Makan pagi (MPASI/makanan keluarga)
10.00 — Makanan selingan
12.00 — Makan siang (MPASI/makanan keluarga)
14.00 — ASI
16.00 — Makanan selingan
18.00 — Makan malam (MPASI/makanan keluarga)
21.00 — ASI
02.00 — ASI (bila perlu)

Jadwal ini bisa disesuaikan dengan waktu tidur anak, aktivitas, dan kebutuhan keluarga. Kadang anak tidak mau makan pada "waktunya makan". Boleh ditunda sedikit — yang penting tetap rutin dan konsisten, bukan kaku. Kadang mereka kenyang, kadang rewel karena ngantuk, bukan lapar.

Tips:
1. Hentikan pemberian makan jika setelah 15 menit anak bermain-main tanpa makan atau tampak kesal dan membuang-buang makanannya.
2. Perhatikan sinyal lapar dan kenyang (bukan paksaan).
3. Suasana makan lebih penting daripada porsi.